PPDB Berlakukan Sistem Zonasi

kancantaradio.com – Kabupaten Lombok Timur pada tahun ajaran baru 2017/2018 akan menerapkan sistem zonasi dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) di tingkat SMA. Hal ini disampaikan Kepala Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) Layanan Pendidikan Menengah Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Lombok Timur, Saiful Islam saat dikonfirmasi awak media di Selong, Senin (12/6) kemarin.

Dengan menerapkan sistem zonasi tersebut, setiap sekolah yang akan menerima peserta didik baru harus mempertimbangkan kawasan asal tempat tinggal calon peserta didik baru, khususnya yang menempuh jalur pra sejahtera dan umum. Ketentuan zonasi ini hanya diterapkan di sekolah-sekolah SMA. Sedangkan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dibebaskan dari penerapan sistem zonasi tersebut.

Dalam pelaksanaannya, penerimaan peserta didik baru (PPDB) di tingkat SMA menurut Saiful Islam, melalui 3 jalur penerimaan, yakni jalur prestasi, pra sejahtera dan jalur umum. Untuk peserta yang menempuh jalur pra sejahtera dan umum harus diterapkan sistem zonasi. Sedangkan, yang masuk melalui jalur prestasi tidak dikenakan sistem zonasi yang berarti siswa bebas memilih sekolah mana yang akan dimasuki.

Penerapan sistem zonasi ini dimaksudkan untuk mempermudah siswa dalam mengikuti pembelajaran yang tidak harus ke tempat yang sangat jauh dari tempat tinggalnya. Selain itu, sistem ini akan mempersempit ruang gerak oknum-oknum yang mau bermain dengan melakukan pungutan liar pada saat PPDB dengan berdalih bina lingkungan, beli bangku dan lain sebagainya.

Penerapan sistem zonasi ini juga dimaksudkan untuk pemerataan. Sebab saat ini, kebanyakan siswa memilih sekolah di luar daerah karena menganggap sekolahnya favorit atau juga karena paksaan orang tua. Sehingga, sekolah tersebut secara kuota melebihi dari daya tampung semestinya. Maka tak heran, banyak aktifitas belajar mengajar di sekolah yang melebihi kuota siswanya dilakukan di musholla ataupun di perpustakaan sekolah.

Menurut Saiful Islam, normalnya di setiap sekolah, per kelasnya diharuskan menampung maksimal 32 orang siswa. Hal ini ditujukan untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dengan jumlah siswa yang tidak terlalu banyak. (ovp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *