3 Faktor Resiko Penyakit Yang Kerap Hantui Petani Garam

kancantaradio.com – Profesi sebagai petani garam merupakan pekerjaan yang harus siap berhadapan dengan teriknya matahari dan harus bekerja di tempat terbuka. Karenanya, resiko terjangkit beragam penyakit sangat terbuka lebar. Berdasarkan informasi yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur, drg. H. Asrul Sani, belum lama ini di Selong. Setidaknya, ada 3 faktor resiko yang kerap menghantui para petani garam yang sehari-harinya berkutat dengan aktifitas di tambak.

Faktor resiko pertama adalah faktor lingkungan kerja fisik yang dipengaruhi teriknya matahari, hembusan angin, debu dan air laut. Gangguan kesehatan yang disebabkan faktor resiko lingkungan kerja fisik ini meliputi dehidrasi, iritasi kulit, biang keringat, kedinginan, masuk angin, batuk, pilek, sesak nafas, gatal dan kutu air.

Untuk mencegah terjadinya gangguan dari faktor resiko yang satu ini, petugas tenaga kesehatan menyarankan agar para petani garam yang beraktifitas di tambak harus memperhatikan beberapa hal. Seperti, menggunakan pakaian lengan panjang, topi, kacamata buram, minum air yang cukup. Selain itu, perlu juga menggunakan masker dan sepatu boot.
Selanjutnya, faktor resiko biologis atau mikroba juga terkadang mengganggu kesehatan para petani garam dengan munculnya luka ringan akibat gigitan nyamuk atau serangga lainnya dan gangguan penyakit cacing. Untuk mengendalikannya, selain memperhatikan hal-hal yang tersebut di atas, perlu juga memperhatikan kebiasaan mencuci tangan dengan air bersih sebelum melakukan aktifitas lainnya, terutama jika ingin makan.

Ditambahkan pula bahwa, ada resiko yang kerap dialami petani garam yang diakibatkan beratnya aktifitas fisik selama beraktifitas di tambak, yakni faktor resiko ergonomis yang lebih cenderung dialami petani karena tidak sesuainya fostur tubuh dengan alat kerja yang digunakan. Gangguan yang diderita berupa rasa lelah di bagian leher, punggung, pinggang dan telapak tangan.

Untuk mengatasi gangguan ergonomis ini, petani disarankan agar menggunakan alat kerja yang diatur sesuai dengan fostur tubuh petani itu sendiri untuk menghindari resiko kelelahan.

Apa yang diutarakan dengan jelas oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur di atas tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan beberapa petani garam di lapangan. Keluhan-keluhan seperti sakit pinggang, punggung, batuk, pilek dan beberapa penyakit lainnya itu, memang kerap dialami petani akibat bersentuhan langsung dengan panasnya matahari yang tak terfilter. Namun, metode pengobatan yang dilakukan petani masih sederhana, cukup dengan membeli obat-obatan warung, gejala seperti sakit pinggang ataupun lainnya akan dapat hilang dengan segera dan petani dapat beraktifitas kembali.

Sedangkan untuk petani garam halus yang sehari-harinya berkutat dengan alat perebus, diungkapkan salah seorang petani, Laili di Desa Ketapang Raya Kecamatan Keruak, selain keluhan sakit pinggang, punggung dan leher, para perebus garam halus juga paling sering mengeluh sakit kepala karena bersentuhan langsung dengan panas api dalam tungku perebus berikut dengan asapnya. Pengobatannya pun sederhana, cukup mengandalkan obat-obatan warung. Gejala yang dialami segera hilang dan dapat melanjutkan aktifitas.

Untuk mengatasi persoalan kesehatan para pekerja secara umum, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur telah mengeluarkan program pembentukan Pos UKK yang dilakukan dengan membina kelompok para pekerja dengan pengetahuan pengobatan. Selain melakukan pembinaan dengan memberikan pengetahuan terkait pengobatan beberapa penyakit dalam kategori pertolongan pertama pada kecelakaan, masing-masing Pos UKK juga dilengkapi dengan peralatan P3K yang dapat dimanfaatkan anggota kelompok untuk memberikan pertolongan bagi anggota yang terganggu kesehatannya.
Program Pos UKK ini, lanjut Kepala Dikes Lotim sudah tersebar di beberapa daerah. Namun, belum ada kelompok petani garam yang bergabung dalam program ini. Diharapkan, secara perlahan, kesadaran akan kesehatan para petani garam dapat meningkat. Sehingga, aktifitas rutin petani tidak terganggu persoalan kesehatan. (kis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *